Monday, May 4, 2015

BAB 3 OPTIMASI EKSTRAKSI MANGOSTIN DARI KULIT BUAH MANGGIS



III.             PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1 Waktu dan tempat pelaksanaan
            Penelitian ini telah dilaksanakan dari bulan September 2011 sampai Mei 2012 di Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Sentral Fakultas Farmasi, Universitas Andalas Padang.

3.2  Metodologi penelitian
Penelitian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
1.               Penyiapan alat dan bahan
2.               Pengumpulan bahan baku
3.               Identifikasi bahan baku
4.               Pengeringan bahan baku
5.               Penghalusan bahan baku
6.               Proses ekstraksi
7.               Penentuan kadar α-mangostin dalam ekstrak kering

3.3 Alat dan bahan
         Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: gerinder, peralatan destilasi, wadah maserasi, peralatan perkolasi, perlatan sokletasi, peralatan rotary evaporator (Buchi®), Camag UV Lamps 254 nm dan 366 nm, gelas ukur, beaker glass, pipet tetes, spatel, botol infus, corong, timbangan analitik, vial, labu ukur, bejana kromatografi (chamber), pinset, pipet kapiler, UV-1700 Spectrophotometer (Shimadzu®), sonikator, Thermo Fisher Nicolet iS10 FT-IR Spectrometer, Stuart® Melting Point Apparatus dan camag® TLC scanner 4, dan camag® nanomat 4.
Bahan yang digunakan adalah kulit buah manggis, (Garcinia mangostana Linn.) yang telah dikeringkan sebanyak 300 gram, n-heksan, diklorometan (DCM), metanol, aquades, kapas, aluminium foil, kertas perkamen, kertas saring, dan plat silika 60 GF254 (Merck®).

3.4 Prosedur kerja
3.4.1 Pengumpulan bahan baku
Pengumpulan bahan baku berupa kulit buah manggis dilakukan di Jorong Koto Baru, Nagari Koto Baru Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh kota.

      3.4.2 Identifikasi bahan baku
Tumbuhan diidentifikasi di herbarium Universitas Andalas (ANDA), Padang, Sumatera Barat.

3.4.3 Pengeringan bahan baku
         Bahan basah yang telah dikumpulkan harus disortir terlebih dahulu. Kulit manggis yang berbentuk setengah lingkaran dapat dibentuk lebih kecil dengan cara kulit diserpihkan dengan ujung jari (± 1 cm). Selanjutnya dilakukan pengeringan dengan cara kering angin selama 10 hari.


3.4.4 Penghalusan bahan baku
Bahan baku kering sebanyak 300 g dihaluskan dengan mesin gerinder.

3.4.5 Proses ekstraksi
           3.4.5.1 Ekstraksi metode maserasi
100 gram serbuk kering kulit buah manggis direndam dalam 200 mL n-heksana selama 3 hari pada temperatur kamar sambil sesekali diaduk. Setelah itu, dilakukan penyaringan sehingga didapat ekstrak cair dan ampas. Kemudian, ampas direndam lagi dalam 200 mL n-heksana selama 3 hari pada temperatur kamar sambil sesekali diaduk. Lalu disaring lagi, sehingga didapatkan kembali ekstrak cair dan ampas. Ekstrak cair ini bisa digabung dengan ekstrak cair sebelumnya. Sementara ampas direndam lagi dalam 200 mL n-heksana selama 3 hari pada temperatur kamar sambil sesekali diaduk. Selanjutnya disaring lagi untuk mendapatkan ekstrak cair dan ampas. Seluruh ekstrak cair dari serbuk kulit buah manggis yang menggunakan pelarut n-heksana tidak disertakan dalam proses selanjutnya. Dari proses perendaman dengan pelarut n-heksana ini, peneliti hanya akan mengambil ampasnya untuk direndam kembali dalam pelarut DCM (Liu, 2011).

Proses perendaman dengan pelarut DCM sama seperti proses perendaman sebelumnya. Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali dan seluruh ekstrak cair yang didapat dari setiap pengulangan dapat dicampur. Namun, dalam proses ini, ekstrak cair dari serbuk kulit buah manggis (menggunakan pelarut DCM) akan dikentalkan dengan menggunakan rotary evaporator sehingga didapat ekstrak kental. Sementara ampas tidak lagi diperlukan dalam proses selanjutnya.
                  3.4.5.2 Ekstraksi metode perkolasi
100 g serbuk kering kulit buah manggis direndam dalam 200 mL n-heksana selama sehari dalam wadah perkolator. Jangan lupa untuk menutup mulut perkolator. Setelah itu, keran perkolator dibuka dan n-heksana dialirkan dari atas sedikit demi sedikit sehingga selalu ada selapis pelarut di atas sampel. Total n-heksana yang digunakan pada proses ini adalah 600 mL. Jika seluruh pelarut sudah dikeluarkan dan perkolator hanya berisi ampas dari serbuk kulit buah manggis, maka perkolasi dapat dilanjutkan kepada proses selanjutnya.
Perkolator yang telah berisi ampas direndam dengan 200 mL DCM. Lalu tutup mulut perkolator dan biarkan selama sehari. Setelah itu keran perkolator dibuka, DCM yang keluar ditampung dan dari mulut perkolator dialirkan DCM sehingga selalu ada selapis pelarut dalam perkolator. DCM dialirkan sedikit demi sedikit, secara terus menerus dan berhenti ketika DCM yang digunakan sudah mencapai total 600 mL. Kemudian seluruh ekstrak DCM yang sudah ditampung di evaporacy menggunakan rotary evaporator sampai didapat ekstrak kental (Depkes RI, 2000).
                  3.4.5.3 Ekstraksi metode sokletasi
50 g serbuk kering kulit buah manggis pertama dimasukkan dibagian tengah alat soklet. Kemudian ditambah dengan 300 mL heksana. Atur suhu pemanas pada 700C. Kemudian tunggu hingga pelarut pada pipa kapiler berwarna bening. Jika n-heksana yang melewati pipa kapiler sudah bening, maka pemanas dapat dimatikan dan tunggu sampai tidak ada lagi n-heksana yang menetes. Biarkan ampas tetap pada soklet untuk proses selanjutnya.
 Ampas yang tertinggal pada bagian tengah alat soklet dapat disokletasi lagi dengan 300 mL DCM pada suhu 400C. Proses yang terjadi pada sokletasi menggunakan DCM ini sama seperti proses sokletasi menggunakan n-heksana. Setelah DCM yang melewati pipa kapiler menjadi bening, proses pemanasan dapat dihentikan. Kemudian, tetes terakhir yang keluar saat pipa kapiler menjadi bening ditampung dan direaksikan dengan reagen besi (III) klorida dan natrium hidroksida (Robert, 1961). Selanjutnya, 50 gram serbuk kulit buah manggis kedua disokletasi dengan cara yang sama seperti diatas. Setelah itu seluruh ekstrak DCM dikumpulkan dan dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga didapat ekstrak kental. (Voigt, 1995; Depkes RI, 1979).
3.4.5.4 Pengeringan ekstrak kental
Tiga buah ekstrak kental yang didapat dari proses maserasi, perkolasi dan sokletasi kemudian dikeringkan dengan cara diletakkan dalam vial yang diberi tutup aluminium foil. Kemudian tutup aluminium foil ini dilubangi sedemikian rupa sehingga DCM dapat menguap. Biarkan hingga ± 7 hari pada lemari tertutup dan gelap.
Setelah kering, masing-masing ekstrak dihaluskan dengan cara digerus dalam lumpang. Hasil penggerusan ini akan menghasilkan ekstrak kering dan homogen dari kulit buah manggis.
3.4.6 Penentuan kadar α-mangostin dalam ekstrak kering
3.4.6.1 Pemeriksaan kemurnian α-mangostin pembanding
Pemeriksaan kemurnian α-mangostin pembanding dilakukan melalui pemeriksaan KLT dengan eluen DCM : metanol (49:1), pemeriksaan jarak leleh dengan alat Stuart® Melting Point Apparatus, pemeriksaan panjang gelombang maksimum dengan menggunakan UV-1700 Spectrophotometer (Shimadzu®) dan pemeriksaan spektrum IR dengan alat Thermo Fisher Nicolet iS10 FT-IR Spectrometer.

3.4.6.2 Pembuatan larutan standar
Timbang 10 mg serbuk α-mangostin pembanding. Kemudian masukkkan ke dalam labu ukur 50 mL. Lalu tambahkan DCM hingga tanda batas.

3.4.6.3 Pembuatan larutan ekstrak
Masing-masing ekstrak ditimbang 10 mg. Kemudian masukkan dalam labu ukur 50 mL. Lalu tambahkan DCM hingga tanda batas.

3.4.6.4 Kromatografi lapis tipis (KLT)
KLT dilakukan dalam sebuah bejana kromatografi (chamber). Pertama-tama kertas saring dimasukkan kedalam chamber. Kemudian masukkan eluen. Lalu tutup chamber rapat-rapat dan biarkan beberapa saat.
Selanjutnya dilakukan penotolan pada plat. Plat yang digunakan adalah plat silika 60 GF254 (Merck®). Penotolannya dilakukan menggunakan camag® nanomat 4. Untuk larutan standar, penotolan dilakukan dengan volume 1 µL, 2 µL, 3 µL, 4 µL, 5 µL, dan 6 µL. Sementara untuk masing-masing larutan ekstrak, penotolan dilakukan dengan volume 3 µL. Setiap penotolan diberi jarak 1 cm dengan batas bawah 2 cm dan batas samping 1 cm. Kemudian tunggu beberapa menit hingga pelarut (DCM) menguap dari plat.
Eluen yang digunakan dalam proses ini adalah DCM : metanol (49:1). Total eluen yang dibuat adalah 50 mL. Eluen ini dimasukkan ke dalam chamber. Kemudian masukkan juga kertas saring ke dalamnya. Lalu chamber ditutup rapat, tunggu beberapa menit hingga eluen jenuh.
Plat yang sudah siap, dimasukkan kedalam chamber dengan hati-hati menggunakan pinset. Lalu tunggu eluen naik hingga setinggi 18 cm.


3.4.6.5 Penetuan kadar
Penetuan kadar dilakukan dengan alat camag® TLC scanner 4. Plat KLT dimasukkan dalam alat sedemikian rupa, kemudian atur titik awal penotolan dan batas eluen serta masukkan data penimbangan, data volume larutan dan data lain yang diperlukan. Setelah itu alat akan memulai proses scanning, dan jumlah α-mangostin dalam ekstrak dapat diketahui setelahnya.

No comments:

Post a Comment