Friday, May 8, 2015

FARMAKOLOGI VITAMIN UNTUK PENGOBATAN



VITAMIN UNTUK PENGOBATAN
VITAMIN LARUT AIR

Vitamin larut air terdiri dari vitamin B kompleks dan C. Vitamin B kompleks mencakup sejumlah vitamin dengan rumus kimia dan efek biologik yang sangat berbeda yang digolongkan bersama karena dapat diperoleh dari sumber yang sama antara lain hati dan ragi. Yang termasuk dalam golongan vitamin ini adalah tiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), asam nikotinat (niasin), piridoksin (vitamin B6), asam pantotenat, biotin, kolin, inositol, asam para-amino benzoat, asam folat dan sianokobalamin (vitamin B12). Asam para-amino benzoat (PABA) merupakan bahan untuk sintesis asam folat, tetapi ini hanya terjadi pada bakteri. Manusia memperoleh asam folat langsung dari makanan, sehingga PABA tidak essensial untuk manusia atau mamalia pada umumnya. Vitamin C (asam askorbat) terutama didapatkan pada buah jeruk.


Vitamin B Kompleks


1.            Tiamin (vitamin B1)
         Tiamin merupakan kompleks molekul organik yang mengandung satu inti tiazol dan pirimidin. Farmakokinetik dan Fisiologi. Pada dosis kecil tau dosis terapi tiamin tidak memperlihatkan efek farmakodinamik yang nyata. Tiamin berperan dalam metabolisme karbohidrat, pemberian dosis besar tidak mempengaruhi kadar gula darah. Tiamin pirofosfat adalah bentuk aktif tiamin berfungsi sebagai koenzim dalam karboksilasi asam pirufat dan asam ketoglutarat.
         Fungsi :
         Metabolisme antara pada banyak reaksi penting, misalnya metabolisme karbohidrat  berperan sebagai koenzim dalam dekarboksilasi asam-asam alfa keto.
         Defisiensi tiamin :
         Defisiensi berat menimbulkan penyakit beri-beri yang gejalanya terutama tampak pada sistem saraf dan kardiovaskular. Gejala yang tibul berupa pada sistem kardiovaskular dapat berupa gejala insufisiensi jantung antara lain sesak napas setelah kerja jasmani, palpitasi, takikardi, gangguan ritme serta pembesaran jantung dan perubahan elektrokardiogram.
         Farmakokinetik :
         Absorpsi per oral berlangsung dalam usus halus dan duodenum, maksimal 8-15 mg/hari yang dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg.
         Kontraindikasi : Hipersensitivitas
Efek samping :
Tidak menimbulkan efek toksik bila diberikan per oral dan bila kelebihan tiamin cepat diekskresi melalui urin.
Indikasi :
Pencegahan dan pengobatan defisiensi tiamin dengan dosis 2-5mg/hari untuk pencegahan defisiensi dan 5-10mg tiga kali sehari untuk pengobatan. Tiamin berguna untuk pengobatan berbagai neuritis yang disebabkan oleh defisiensi tiamin misalnya pada (1) neuritis alkoholik yang terjadi karena sumber kalori hanya alkohol saja, (2) wanita hamil yang kurang gizi,  (3) pasien emesis gravidarum.

2.            Riboflavin (Vitamin B2)
         Riboflavin merupakan zat yang berwarna kuning yang terdapat dalam susu, dan dinamakan laktokrom. Zat yang sama ditemukan pula dalam daging, hati, ragi, telur, dan berbagai sayur-sayuran dan disebut sebagai flavin.
         Fungsi :
         Koenzim untuk berbagai flavoprotein respirasi.
         Farmakodinamik :
         Pemberian riboflavin baik secara oral maupun parenteral tidak memberikan efek  farmakodinamik yang jelas.
         Defisiensi Riboflavin :
         Keadaan ini ditandai dengan gejala sakit tenggorokan dan radang di sudut mulut (Stomatitis angularis), keilosis, glositis, lidah berwarna merah dan licin. Gejala pada mata adalah fotofobia, lakrimasi, gatal, dan panas.
         Farmakokinetik :
         Pemberian secara oral atau parental diabsorpsi baik dan didistribusi merata keseluruh jaringan.
         Indikasi :
         Untuk pencegahan dan terapi defisiensi vitamin B2  yang sering menyertai pelagra atau defisiensi  vitamin B kompleks lainnya. Dosis untuk pengobatan adalah 5-10 mg/hari.
         Kontraindikasi : Hipersensitivitas.

3.            Asam Nikotinat (Vitamin B3)
Dikenal sebagai faktor PP (pellagra preventive)  karena dapat mencegah penyakit pelagra pada manusia atau penyakit lidah hitam pada hewan. Sumber alami vitamin ini adalah hati, ragi, dan daging.
         Farmakokinetik dan Efek Samping :
         Niasinamid berefek antipelagra, berperan dalam metabolisme sebagai koenzim untuk berbagai protein yang penting dalam respirasi jaringan. Pada pemberian dosis besar dapat menurunkan kadar kolestrol dan asam lemak bebas dalam darah.
         Efek samping : terjadi kenaikan kadar asam urat dalam darah, gangguan fungsi hati, gangguan lambung berupa mual sampai muntah serta peningkatan motilitas usus.
         Defisiensi Niasin :
         Pelagra adalah penyakit defisiensi niasin dengan kelainan pada kulit, saluran cerna, dan SSP. Kulit mengalami erupsi eritematosa, bengkak dan merah, pada saluran cerna terjadi lidah membengkak, merah, stomatitis, mual, muntah, dan enteritis. Gejala gangguan SSP  berupa sakit kepala, insomnia, bingung, dan kelainan psikis seperti halusinasi, delusi, dan demensia pada keadaan lanjut.
         Farmakokinetik :
         Mudah diabsorpsi melalui semua bagian saluran cerna dan didistribusi keseluruh tubuh. Ekskresinya melalui urin sebagian kecil dalam bentuk untuh dan sebagian lainnya dalam bentuk berbagai metabolitnya.
         Indikasi :
         Profilaksis  dan pengobatan pelagran (10-50 mg/hari), hiperlipidemia.
         Kontraindikasi : Hipersensitivitas.

4.              Piridoksin (vitamin B6)
Sumbernya yaitu ragi, biji-bijian (gandum, jagung dan lain-lain) dan hati. Dalam alam vitamin ini terdapat dalam tiga bentuk yaitu piridoksin (berasal dari tumbuh-tumbuhan) serta piridoksal dan piridoksamin.
Farkodinamik dan fisiologi :
Pemberian piridoksin secara oral dan parentral tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang nyata. Piridoksal fosfat dalam tubuh merupakan koenzim yang berperan penting dalam metabolisme.
Farmakokinetik :
Piridoksin, piridoksal dan piridoksamin mudah diabsorpsi melalui cerna. Metabolit terpenting dari ketiga bentuk tersebut adalah 4-asam piridoksat. Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal.
Efek Samping :
Piridoksin dapat menyebabkan neuropati sensorik atau sindrom neuropati dalam dalam dosis antara 50mg-2g per hari unuk jangka panjang. Gejala awal dapat berupa sikap yang tidak stabil dan rasa kebas pada kaki, diikuti dengan tangan dan sekitar mulut. Dan gejala dapat berangsur hilang setelah beberapa bulan bila asupan pirioksin.
Indikasi :
Untuk mencegah atau mengobati neuritis perifer oleh obat misalnya isoniazid, sikloserin, hidralazin, penisilamin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan meningkatkan ekskresinya melalui urin.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas.

5.            Asam pantotenat (vitamin B5)
Farmakodinamik :
Bersifat nontoksik, defisiensinya dapat ditimbulkan dengan memberikan diet yang mengandung antagonis asam pantotenat. Sindroma yang terjadi berupa kelelahan, rasa lemah, gangguan saluran cerna, gangguan otot berupa kejang pada ekstremitas dan parestesia.
Farmakokinetik :
Pada pemberian oral, pantotenat dapat diabsorpsi dengan baik, didistribusi ke seluruh tubuh dengan kadar 2-45g/g. Dan dapat diekskresi dalam tubuh melalui urin dan tinja.

6.            Asam Folat (Vitamin B9)
Fungsi :
Membantu pembentukan materi genetik dan protein untuk inti sel. Membantu fungsi usus halus dan mencegah anemia tertentu.
Indikasi : Anemia Pernisiosa.

7.            Biotin (vitamin H)
Defisiensinya timbul bila diet terdiri dari putih telur mentah sebagai sumber protein atau diberikan antimetabolit biotin. Gejala yang timbul pada manusia antara lain dermatitis, sakit otot, rasa lemah, anoreksia, anemia ringan dan perubahan EKG. Biotin berfungsi sebagai koenzim pada berbagai reaksi karboksilasi. Sumber utamanya yaitu kuning telur, hati dan ragi.

8.            Kolin
Kolin mempunyai fungsi fisiologik penting dalam tubuh diantaranya sebagai prekursor asetilkolin, suatu neurotransmiter. Fungsi lain dari kolin adalah dalam metabolisme intermedier yaitu sebagai donor metil dalam pembentukanberbagai asam amino essensial.
Efek farmakologik kolin mirip dengan asetilkolin tetapi dengan potensi lebih kecil. Defisiensi kolin timbul bila asupan kolin dan protein termasuk metionin dibatasi. Gejala yang timbul berupa kenaikan kadar lemak dalam hati dan sirosis hepatis, kelainan ginjal degeneratif. Penggunaan kolin terutama sebagai zat lipotropik dalam pengobatan penyakit hati seperti sirosis hepatis dan hepatitis. Akan tetapi, efektifitas diragukan. Sediaan yang digunakan berupa kolin, kolin bitatrat, kolin dehidrogen sitrat, dan kolin klorida.

9.            Inositol
Inositol merupakan isomer glukosa dan dalam badan mudah berubah menjadi glukosa, sebaliknya glukosa pun mudah berubah menjadi  inositol.
Pemberian inositol tidak menimbulkan efek farmakodinamik yang nyata, sedangkan fungsinya dalam tubuh belum diketahui. Inositol merupakan bagian dari fosfolipid dan fosfatidilinositol.

Asam Askorbat (Vitamin C)
         Farmakodinamik :  
         Vitamin C dibutuhkan untuk mempercepat perubahan residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin pada sintesis kolagen. Asam askorbat meningkatkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan hormon oksitosin dan hormon antidiuretik. Dengan mereduksi ion feri menjadi fero dalam lambung, vitamin C meningkatkam absorpsi besi. Selain itu juga berperan dalam pembentukan steroid adrenal.
         Pada jaringan, fungsi utama vitamin C ialah dalam sintesis kolagen proteoglikan zat organik matriks  antarsel lain misalnya pada tulang, gigi, endotel kapiler. Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang jelas. Tetapi pada keadaan defisiensi, pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat.

         Defisiensi Vitamin C :
         Gejala awal  hipovitaminosis C adalah malaise, mudah tersinggung, gangguan emosi, artralgia, hyperkeratosis folikel rambut, pendarahan hidung dan petekie. Pada tulang yang sedang tumbuh dapat terjadi gangguan pertumbuhan, pembengkakan pada ujung tulang panjang akibat pendarahan subperiosteum serta osteoporosis pada orang dewasa.
         Farmakokinetik :
         Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna. Distribusinya luas keseluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin.
         Indikasi :
         Mencegah dan mengobati defisiensi vitamin C, mempercepat penyembuhan luka dan  luka bakar.
         Efek Samping :
         Sakit kepala, letih, ngantuk, mual, nyeri ulu hati, muntah, dan diare.


VITAMIN LARUT LEMAK
Vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, dan K) diabsorpsi dengan cara yang kompleks dan sejalan dengan absorpsi lemak. Dengan demikian keadaan-keadaan yang menyebabkan gangguan absorpsi  lemak seperti defisiensi asam empedu, ikterus, dan enteritis dapat mengakibatkan defisiensi satu atau mungkin semua vitamin golongan ini.
Vitamin larut lemak mempengaruhi permeabilitas atau transport pada berbagai membran sel dan bekerja sebagai oksidator atau reduktor, koenzim atau inhibitor enzim. Vitamin A dan D mempunyai aktivitas mirip hormon. Vitamin-vitamin ini disimpan terutama dihati dan diekskresi melalui feses. Karena metabolismenya sangat lambat, dosis yang berlebihan dapat menimbulkan efek toksik.

1.            Retinol (Vitamin A)
Vitamin A terutama terdapat pada bahan yang berasal dari hewan seperti mentega, telur, hati, daging, minyak hati ikan. Sebagian besar vitamin A dalam makanan berasal dari karotenoid, terutama  dalam bentuk α, β, dan γ-karoten. Karoten banyak terdapat pada sayuran berwarna hijau atau kuning dan pada buah-buahan seperti tomat, pepaya, wortel.
Farmakodinamik : 
Vitamin A dosis kecil tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang berarti. Sebaliknya pemberian dosis besar vitamin A menimbulkan keracunan. Defisiensi vitamin A yang sangat berat dapat menyebabkan kebutaan.
Farmakokinetik :
Vitamin A diabsorpsi sempurna melalui usus halus dan kadarnya dalam plasma mencapai puncak setelah 4 jam, tetapi absorpsi dosis besar  vitamin A kurang efisien karena sebagian akan keluar melalui tinja. Metabolit vitamin A diekskresi melalui urin dan tinja.
Indikasi :
         Untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi  vitamin A. Pemberian vitamin E bersama dengan vitamin A dapat meningkatkan efektivitas vitamin A  dan mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya hipervitaminosis A.
           Interaksi :
         Jika tidak ada indikasi yang spesifik, dosis besar vitamin A sebaiknya dihindari pada pasien yang mendapat pengobatan antikoagulan. Pada beberapa pasien terlihat peningkatan respons hipoprotrombinemik terhadap warfarin yang diberikan bersama vitamin A dosis besar (25.000 IU/hari).

2.            Kalsiferol (Vitamin D)
Fungsi :
Meningkatkan pemakaian fosfor dan kalsium. Penting untuk kesehatan tulang dan gigi.
Mekanisme Kerja :
-          Memudahkan absorpsi ion kalsium dan fosfat oleh usus halus .
-          Berinteraksi dengan PTH untuk meningkatkan mobilitas ion kalsium dan fosfat dari tulang.
-          Menurunkan ekskresi ion kalsium dan fosfat diginjal.
         Indikasi :
-          Profilaksis (mencegah) dan penyembuhan rakitis nutrisional.
-          Pengobatan rakitis metabolik dan osteomalosis.
-          Pengobatan hipoparatiriodisme.
-          Pencegahan dan pengobatan  osteoporosis.
         Farmakokinetik :
         Absorpsi vitamin D melalui saluran cerna cukup baik.

3.            Tokoferol (Vitamin E)
Vitamin E antara lain didapatkan  pada telur, susu, daging, buah-buahan, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran (selada dan bayam). Tokoferol rusak bila terkena udara atau sinar ultraviolet. Vitamin E dipasarkan sebagai campuran tokoferol.
Fungsi :
Melindungi asam-asam lemak dan meningkatkan pembentukan dan fungsi sel-sel darah merah, otot dan jaringan lain.
Mekanisme Kerja :
-          Melindungi LDL dari oksidasi
-          Menghambat aktivasi  platelet dan pelekatan leukosit.
-          Menghambat pembentukan  nitrosamin yang karsinogenik.
-          Mengubah proses terjadinya tumor
Indikasi :
-          Hemoragi (pendarahan)
-          Anak dengan fibrosis sistik (50-200 mg/kg/hari)
-          Distrofi  otot
-          Terapi tambahan pada jantung koroner (400 unit/hari)
-          Terapi tambahan pada kanker.
Farmakokinetik :
Vitamin E diabsorpsi baik melalui saluran cerna. Dalam darah terutama terikat dengan beta-lipo-protein dan didistribusi  ke semua jaringan. Kebanyakan vitamin E diekskresikan secara lambat ke dalam empedu, sedangkan sisanya diekskesikan melalui urin sebagai glukuronida dari asam tokoferonat atau metabolit lain.

4.            Koagulation Vitamin (Vitamin K)
Vitamin K1 yang digunakan untuk pengobatan, terdapat pada kloroplas sayuran berwarna hijau dan buah-buahan. Vitamin K2 disintesis oleh bakteri usus terutama oleh bakteri Gram-positif. Vitamin K sintetik yaitu vitamin K3 (menadion) merupakan derivat naftokuinon, dengan aktivitas yang mendekati vitamin K alam.
Fungsi :
         Penting untuk pembekuan darah dan kofaktor  yang penting untuk sistem enzim mikrosom.
         Mekanisme Kerja :
         Meningkatkan biosintesis faktor II (protrombin), faktor VII, faktor IX, dan faktor X.
     Indikasi :
         Kekurangan vitamin K pada pasien yang sedang menerima nutrisi parenteral (150 mikrogram/hari)
         Efek Samping & Toksisitas :
         Vitamin K dapat menimbulkan anemia  hemolitik, hiperbilirubinemia, dan kernikterus pada bayi baru lahir, khususnya bayi premature.
         Toksisitas : terbukti tidak toksik meskipun diberikan 500 kali lebih banyak dari dosis  seharusnya
         Farmakokinetik :. 
         Absorpsi vitamin K melalui usus sangat tergantung dari kelarutannya. Vitamin K alam  dan sintetik diabsorpsi dengan mudah setelah penyuntikan IM. Metabolisme vitamin K didalam tubuh tidak banyak diketahui. Pada urin dan empedu hampir tidak ditemukan bentuk bebas, sebagian besar dikonjugasi  dengan asam glukuronat.
         Defisiensi vitamin K :
         Menyebabkan hipoprotrombinemia dan menurunnya kadar beberapa factor pembekuan darah, sehingga waktu pembekuan darah memanjang dan dapat terjadi pendarahan secara spontan.

ASUPAN VITAMIN YANG BERLEBIHAN 

Asupan vitamin yang berlebihan dapat disebabkan karena :
1.      Penggunaan vitamin dalam jumlah besar, baik untuk tujuan pencegahan maupun pengobatan penyakit yang tidak jelas berhubungan dengan defisiensi vitamin.
2.      Penggunaan vitamin secara rutin  dengan jumlah yang jauh melebihi AKG karena adanya anggapan bahwa vitamin dapat memberikan tambahan energi dan membuat seseorang lebih sehat.
3.      Banyaknya sediaan yang mengandung satu macam vitamin atau beberapa  macam vitamin (multivitamin) dalam jumlah yang besar yang dinyatakan sebagai suplementasi makanan dan dapat dibeli tanpa resep dokter.

No comments:

Post a Comment