Wednesday, July 29, 2015

TEKNIK PERCOBAAN ORGAN TERISOLASI (IN-VITRO)



TEKNIK PERCOBAAN ORGAN TERISOLASI (IN-VITRO)


Percobaan organ terisolasi sering jaga disebut dengan organ terpisah atau percobaan in-vitro, yaitu percobaan yang dilakukan terhadap organ tertentu dari hewan percobaan yang dilakukan terpisah/di luar tubuh hewan percobaan tersebut. Percobaan in-vitro dilakukan untuk mengetahui aktivitas organ tersebut terutama yamng dapat dimanifestasikan dengan gerak sehingga menghasilkan suatu grafik yang dapat diukur secara kuantitatif. Percobaan organ terisolasi ini biasanya meliputi kontraksi dan relaksasi dari suatu organ yang dapat menghasilkan grafik/pola dan dapat direkam melalui suatu rekorder.
Ada beberapa hal yang penting diperhatikan untuk melakukan percobaan organ terisolasi ini :
1. Teknik pengambilan organ
2. Organ Bath
3. Larutan Fisiologis
4. Recording
5. Pengaturan dosis dan waktu pengamatan

1. Teknik Pengambilan Organ
Untuk percobaan In-vitro selalu dipakai organ segar yang baru dike;luarkan dari hewan percobaan. Organ percobaan yang telah diambil dengan teknik tertentu, segera direndam di dalam larutan fisiologis (dengan mempertahankan kondisi yang relatif sama dengan kondisi tubuh seperti pH, suhu dan diaerasi) untuk menjaga agar organ tersebut senantiasa dalam keadaan hidup. Hindari menyentuh organ dengan benda-benda yang dapat merusak tisu tersebut seperti bahan-bahan logam dsb.

2. Organ Bath
Orgab bath biasanya terdiri dari duabagian yaitu tabung (bath) tempat tisu dan tabung bagian luar (jacket) untuk menjaga suhu percobaan. Tabung tempat tisu biasanya mengandung cairan fisiologis dan tempat aerasi serta tempat penggantungan tisu. Tabung tempat tisu dibuat sedemikian rupa sehingga medah untuk membersihkan dan menganti larutan fisiologis serta memasukkan larutan bahan uji dari berbagai konsentrasi. Sebelum percobaan dimulai, tabung tempat tisu ini harus dibersihkan terlebih dahulu agar terhindar dari kontaminasi bahan asing terkasuk mikroorganisme yang akan merubah kondisi di dalam tisu tempat organ itu sendir yang akhirnya akan menggangu hasil percobaan. Kemudian diisi dengan larutan fidiologis serta dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh melalui panas yang dihantarkan oleh jacket bagian luar.

3. Larutan Fisiologis
Berbagai larutan fisiologis dapat disiapkan untuk menjamin kehidupan organ selama percobaan berlangsung. Cairan fisiologis ini dipilih sesuai dengan jenis organ yang akan diperlakukan.
Beberapa larutan fisiologis yang sering digunakan dalam percobaan in-vitro adalah :

Nama
Tyrode
De Jalons
Locke
Ringer
Frog
Ringer
Krebs
MC Ewen
NaCl
40.0
45.0
45.0
32.5
34.5
38.0
NaHCO3
5.0
2.5
1.0
1.0
10.5
10.5
D Glucose
5.0
2.5
5.0
-
10.0
10.0
KH2PO4
-
-
-
-
0.8
-
NaH2PO4
0.2
*-
-
-
-
0.72
KCl
1.0
2.1
2.1
0.7
1.8
2.1
MgSO4 7H2O
-
-
-
-
1.45
-
MgCl2
0.
-
-
-
-
-
Sucrose
-
-
-
-
-
22.
SHCl2 2H2O
1.32
0.4
1.6
0.79
1.85
1.5
Aerasi
udara
O2/CO
95%/5%
O2
Udara
O2/CO
95%/5%
O2/CO
95%/5%

Dalam pencampuran ini CaCl2 ditambahkan terakhir ke dalam larutan yang fungsinya untuk menjaga jangan terjadinya pengendapan  dari bicarbonat. Larutan fisiologis sedapatnya dibuat segar, kalaupun untuk disimpan hendaklah disimpan di dalam lemari es untuk penyimpanan yang tidak lebih dari 4-5 hari. Sebelum percobaan larutan ini hendaklah dihangatkan sampai suhu 37oC agar suhunya sama dengan suhu tubuh.

4. Recording
Berbagai recording dapat digunakan untuk mencatat segala aktivitas organ terisolasi baik secara fisika maupun secara elektronika. Secara fisika dapat digunakan alat kimokgaf yang mencatat segala aktivitas dengan tampilan grafik kontraksi atau relaksasi organ dengan skala tertentu. Secara elektronika dapat dilakukan dengan menghubungkan langsung dengan software komputer sehingga seluruh data aktivitas dapat dicetat dan disimpan dalam hard disk komputer, sedangkan tampilannya dapat dilihat dilayar monitor.

5. Pengaturan dosis dan waktu pengamatan
Dosis untuk calon obat yang diuji harus diatur sedemikian rupa agar dapat dideteksi oleh alat dengan jelas. Untuk ini perlu dilakukan beberapa percobaan orientasi untuk mendapatkan grafik yang dapat dibaca dengan jelas. Waktu pengamatan juga harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga kurva atau grafik yang dihasilkan dapat dinterpretasikan sebagai % evek vs waktu pengamatan. Waktu dankonsentrasi nol dapat dianggap saat pencucian tisu. Aktivitas saat itu merupakan baseline dari aktivitas organ percobaan. Setiap penggantian konsentrasi larutan calon obat uji, tisu harus dicuci, dan ditunggu sampai aktivitas kembali normal (kembali ke baseline).

1 comment:

  1. Dimanakah kampus/institusi yang memiliki alat organ bath ?

    ReplyDelete