Wednesday, July 29, 2015

TEB ASTRINGENSIA IN-VITRO



TEKNIK EVALUASI AKTIVITAS ASTRINGENSIA


PENDAHULUAN
Astringensia merupakan zat/senyawa yang bekerja dengan caar mengkoagulansi protein yang penetrasinya sangat kecil sehingga hanya mempengaruhi permukaan sel. Akibat dari kerja tersebut menyebabkan permebialitas membran mukosa atau kulit  yang berkontak dengan zat adstreingensia tersebut akan menurun yang menyebabkan kepekaan daerah tersebut menurun pula.
Pengukuran efek astringensia ini dapat dilakukan secara in-vitro menggunakan paru-paru katak, dan secara klinis melalui sensasi yang dirasakan pada mulut setelah melakukan pembilasan mulut (kumur) dengan zat tersebut. Mulut terutama lidah akan memberikan sensasi sepat atau mati rasa setelah pembilasan dengan zat astringensia tersebut.

A. Uji Aktivitas Astringensia secara in-vitro
Paru-paru katak yang dicelup ke dalam larutan astringensia akan menyebabkan koagulasi protein pada permukaan paru-paru. Paru-paru yang proteinnya terkoagulasi akan menunjukkan tinggi tinggi air yang berbeda dengan paru-paru normal apabila diukur dengan menggunakan kanula berbentuk U asimetris yang kedua ujungnya masing-masing dihubungkan dengan paru-paru dan air di dalam gelas ukur. Tinggi air di dalam kanula setelah paru-paru dicelup di dalam larutan uji dibandingkan dengan tinggi air di dalam kanula dicelup dalam larutan baku pembending menggambarkan kekuatan kerja zat uji sebagai astringensia.

Bahan dan Alat:
Bahan : Bahan uji, AgNO3, Air suling

Alat : Kanula berbentuk U asimetris, alat bedah, gelas ukur, gelas piala, benang halus, cawan petri, pipet tetes, mistar, lampu duduk, kertas sering dan kaca pembesar.

Hewan Percobaan : Katak

Prosedur
1. Penyiapan kanula berbentuk U asimetris
Kanula berbentuk U asimetris dibuat dari gelas dengan ukuran sebagai berikut :
Diameter kanula dibuat 3-4 mm, atau yang sesuai dengan ukuran /diameter bronkus  dan memungkinkan untuk membaca teliti volume air di dalam kanula.
Panjang bahagian yang ujung bebasa (bgn yang panjang) adalah 20 cm, panjang bagian ujung yang pendek adalah 5 cm. Ujung yang pendek dilancipkan agar dapat dimasukkan ke dalam bronkus.

2. Penyiapan paru-paru katak yang berkanula
Otak dan sumsum tulang belakang katak dirusakkan, kemudian dipaparkan bgn toraknya. Rahang bawah katak digunting, ujung gunting dimasukkan ke dalam glotis dan trakea dipisahkan. Ujung kanula yang pendek berujung lancip dimasukkan ke dalam salah satu cabang bronkus, lalu diikat dengan benang. Paru-paru tersebut dikeluarkan, terhadap paru-paru yang lain dilakukan pekerjaan yang sama. Paru-paru tersebut harus senantiasa dibasahi dengan air suling.

3. Pengukuran efek astringensia
Ujung kanula dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berisi 100 ml air. Ujung kanula diletakkan pada posisi 50 ml, dan tinggi air dalam kanula dibaca. Tinggi air di dalam kanula dibaca pula saat posisi ujung kanula berada pada 0 ml. Angka yang terbaca menunjukkan nilai normal (sebagai kontrol).
Paru-paru tersebut dicelup ke dalam larutan uji selama 5 menit dan tinggi air di dalam kanula kembali dibaca pada kedua posisi (0 ml dan 50 ml) seperti di atas. Sebagai baku pembending dipakai larutan AgNO3 1% b/v.
Tinggi air di dalam kanula setelah peru-paru dicelup ke dalam larutan uji dikoreksi terhadap kontrol dan dibandingkan dengan baku pembandung.

1 comment:

  1. boleh tau sumbernya darimana, dseperti caki atau jurnal ataupun buku

    ReplyDelete