Thursday, September 17, 2015

Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs



·         Ibuprofen
·         Asam Mefenamat
·         Aspirin
·         Natrium Diklofenat
1.      Manakah obat yang paling tepat pada kasus sakit gigi ?
      Obat yang paling tepat digunakan untuk kasus sakit gigi adalah asam mefenamat (ISO Indonesia Volume 46, halaman 4). Asam mefenamat merupakan obat golongan non steroidal  anti inflammatory yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Sesuai nama golongannya, “anti inflammatory” atau anti inflamasi, obat ini berfungsi untuk mengurangi peradangan yang terjadi dalam tubuh manusia dan meredakan rasa sakit tingkat ringan hingga menengah, serta mengurangi inflamasi atau peradangan.  Asam mefenamat berfungsi menghambat enzim yang memroduksi prostaglandin.  Prostaglandin adalah senyawa yang dilepas tubuh dan menyebabkan rasa sakit serta inflamasi. Dengan menghalangi produksi prostaglandin, asam mefenamat akan mengurangi rasa sakit dan inflamasi.
      Penggunaan Asam Mefenamat sebaiknya digunakan secara bertahap dimulai dari 500 mg, kemudian pada penggunaan berikutnya 4 X 250 mg, yang harus diperhatikan obat ini tidak boleh diminum melebihi 2500mg per hari, rentan waktu penggunaannya-pun jangan melebihi 7 hari. Efektifitas obat ini tergolong cukup cepat, dalam beberapa jam biasanya sudah dirasakan pengaruhnya didalam tubuh, khususnya untuk meredakan rasa nyeri. Sementara itu efektifitasnya terhadap peradangan biasanya akan dirasakan setelah  beberapa dosis dikonsumsi.
      Asam mefenamat sebaiknya dikonsumsi sesudah makan atau dengan cemilan untuk mencegah efek samping. Pasien juga dianjurkan berhenti atau mengurangi rokok dan konsumsi minuman keras selama mengonsumsi obat ini agar dapat mengurangi risiko efek samping pendarahan pada lambung. Semua makanan yang masuk ke dalam tubuh akan dikeluarkan setelah diproses. Asam mefenamat akan dibuang setelah diproses di organ hati. Jadi untuk individu yang mengalami gangguan hati, proses eliminasi asam mefenamat akan terganggu dan akan terkumpul dalam dosis yang tinggi di dalam tubuh mengakibatkan banyak keluhan (dengan catatan, asam mefenamat dikonsumsi terus menerus dalam jangka waktu panjang).
2.      Manakah yang paling tepat pada kasus rematik?
      Obat yang paling tepat digunakan untuk kasus rematik adalah natrium diklofenak (ISO Indonesia Volume 46, halaman 32). Natrium (Na) diklofenak merupakan obat golongan Non-Steroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAID). Na diklofenak digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, pembengkakan akibat peradangan, dan kekakuan sendi akibat artritis (radang sendi), seperti pada artritis reumatoid, osteoartritis, artritis gout, spondilitis ankilosa, dan spondiloartritis. Na diklofenak juga dapat digunakan untuk reumatik yang terjadi di luar persendian, seperti lumbago (nyeri punggung bawah), bursitis (peradangan kantung kecil yang berisi cairan dan berfungsi sebagai bantalan tulang, tendon, dan otot di dekat sendi), dan miositis (peradangan otot). Selain untuk nyeri dan kaku akibat reumatik, natrium diklofenak juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri akut ringan hingga sedang pada orang dengan dismenore (nyeri haid) dan migrain akut.
      Dosis yang diberikan sesuai dengan kondisi kesehatan, respon terhadap pengobatan, dan obat-obatan lainnya yang sedang diminum. Terdapat 3 jenis sediaan table Na diklofenak yang beredar di pasaran, yaitu 25 mg, 50 mg, dan 75 mg.
·         Untuk artritis reumatoid dosis yang digunakan adalah 50 mg 3–4 kali sehari atau 75 mg 2 kali sehari;
·         Untuk osteoartritis adalah 50 mg 2–3 kali sehari atau 75 mg 2 kali sehari;
·         Untuk spondilitis ankilosa dosis yang digunakan adalah 25 mg 4 kali sehari dan dapat ditambah 25 mg lagi sesaat sebelum tidur.
      Na diklofenak baik dikonsumsi segera setelah makan untuk meminimalisir efek samping di saluran pencernaan.
3.      Manakah yang paling tepat pada kasus demam?
      Obat yang paling tepat digunakan untuk kasus demam adalah Ibuprofen (ISO Indonesia Volume 46, halaman 20). Ibuprofen termasuk jenis obat anti inflamasi non-steroid. Obat ini dapat meredakan rasa sakit ringan hingga menengah serta mengurangi inflamasi atau peradangan. Contoh kondisi atau gejala yang dapat ditangani ibuprofen adalah artritis, keseleo, nyeri otot, migrain, nyeri menstruasi, sakit gigi, dan nyeri setelah operasi. Disamping itu, ibuprofen juga dipakai untuk mengurangi gejala demam dan pegal-pegal akibat flu. Ibuprofen bekerja dengan menghambat enzim yang berperan dalam produksi prostaglandin. Prostaglandin adalah senyawa yang dilepaskan tubuh yang menyebabkan inflamasi dan rasa sakit. Dengan menghalangi produksi prostaglandin, ibuprofen mengurangi inflamasi dan rasa sakit. Dosis penggunaan ibuprofen tergantung kepada tingkat keparahan rasa sakit yang diderita pasien. Jangan melebihi dosis maksimum ibuprofen untuk orang dewasa yaitu 2.400 mg per 24 jam. Ibuprofen sebaiknya dikonsumsi sesudah makan atau dengan segelas susu untuk mengurangi efek sampingnya. Pastikan untuk mengurangi rokok serta konsumsi minuman keras karena dapat meningkatkan risiko efek samping pendarahan pada lambung.
      Khasiat ibuprofen sebanding, bahkan lebih besar dari pada asetosal (aspirin) dengan efek samping yang lebih ringan terhadap lambung. Pada pemberian oral ibuprofen diabsorbsi dengan cepat, berikatan dengan protein plasma dan kadar puncak dalam plasma tercapai 1 – 2 jam setelah pemberian. Adanya makanan akan memperlambat absorbsi, tetapi tidak mengurangi jumlah yang diabsorbsi. Metabolisme terjadi di hati dengan waktu paruh 1,8 – 2 jam. Ekskresi bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolit inaktif, sempurna dalam 24 jam.
 4.      Manakah yang paling tepat pada kasus sakit kepala?
      Obat yang paling tepat digunakan untuk kasus sakit kepala adalah aspirin (ISO Indonesia Volume 46, halaman 4). Aspirin sendiri tergolong dalam jenis obat merupakan obat anti inflamasi non- steroid (NSAID) yang berfungsi sebagai pereda rasa nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri otot, sakit gigi, sakit kepala juga rasa nyeri yang disebabkan oleh menstruasi. Obat ini juga sering digunakan untuk mengobati pilek, demam dan peradangan. Fungsi lain yang kerap kali berguna adalah efek anti-trombotik (menghambat aktivasi trombosit) yang merupakan efek yang sangat berguna sebagai pencegah serangan berulang pada pasien dengan nyeri dada akibat sumbatan pada arteri koroner jantung, dan juga pada pasien yang sedang mengalami kejadian nyeri dada akibat sumbatan pada arteri koroner jantung. Aspirin adalah merupakan salah satu jenis obat analgesic yang berfungsi sebagai pereda rasa sakit atau nyeri.  Kadang orang menyebut Aspirin dengan nama Asam asetilsalisilat. Aspirin mempunyai bahan aktif yang disebut sebagai asam salisilat asetil yang merupakan turunan sintetis dari senyawa salisin. Salisin sebetulnya dapat ditemukan secara alami yang terkandung didalam beberapa tanaman terutama pada tanaman Willow. Salisin yang ditemukan pada tanaman Willow sudah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai pereda rasa nyeri sejak ratusan tahun silam. Saat ini Aspirin banyak digunakan sebagai analgesic dan banyak dijual dipasaran. Efektifitas Aspirin akan dirasakan selama 3 sampai 4 jam karena analgesic ini hanya larut dalam usus kecil dan bukan didalam lambung.

No comments:

Post a Comment