Sunday, August 30, 2015

Fungsi dan Evaluasi Sistem Imun



Fungsi dan Evaluasi Sistem Imun


Kata kunci :
Setelah aktivasi, sel denrit mengekspresikan konsentrasi MHC klas II molekul B7-1, B7-2 dan CD40 dan molekul ICAM dan LFA-3 lebih tinggi dibandingkan APC (antigen presenting cells) lain. Mereka juga memproduksi interleuikin 12 (IL-12) lebih banyak. Ini mungkin menjelaskan mengapa sel dendrit invitro adalh APC paling efisien.
Sebuah limfosit T mengeluarkan ratusan reseptor sel T (TCRs). Semua TCRsnyang dikeluarkan pada permukaan sebuah sel limposit T mempunyai antigen spesifik yang sama.
Sebuah limposit B dapat secara simultan mengeluarkan imunoglobulin membran sebagai IgM (monomeric) atau IgD dengan variable yang sama (ex: tempat antigen berikatan) kemuadian limposit B dapat mengekspresikan isotipe yang berbeda ( IgM, IgA, IgG atau IgE ) dengan variable yang sama sebagai IgM membran.
Sebuah elektropharesis protein serum menentukan konsentrasi total dari imunoglobulin circulating (IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE ). Mayoritas kuantitas. Laboratorium klinik hanya IgG, IgM dan IgA karena isotipe yang paling berpengaruh dalam aliran darah. Pada pasien gangguan ginjal, quqntifikasi dari IgE mungkin berguna. Tergantung pada laboratorium klinik, hasil hitung pada unit internasional per mililiter atau mg/dL untik IgE.


Sistem imun mengatur banyak komponen meliputi immunodefensif (pertahanan) mekanik, mediator soluble dan respon imun selular dan homoral.
Sistem imun bekerja melindungi tubuh melawan infeksi patogen dan kanker untuk melaksanakan tugas ini, sistem imun memperlihatkan spesifikasi, memori, mobilitas dan replikabilitas.
Spesipikasi mengindikasikan bahwa sistem imun dapat membedakan antara antigen yang tidak dapat melewati reaksi (non-cross-reacting-antigen). Memory memastikan respon yang lebih cepat dan hebat terhadap serangan substansi patogen. Mobilitas, elemen sistem imun mampu memberikan reaksi lokal  untik menyediakan proteksi. Replikasi, komponen selular dan sistem imun memperkuat respon  imun.
Sistem imun membedakan ”self” dari ”non-self” untuk melindunai host. Sistem imun dibedakan atas Innate (alamiah/non-spesifik) dan adaptive (spesifik).

Functional Divisions of the Immune System
                         



Respon Imun
Jika infeksi pathogen menghindari pertahanan luar tubuh, sebuah respon imun meliputi leukosit dan mediator soluble akan menyerang pathogen.

Respon innate
Leukosit inate meliputi monosit, makrofag, neutrofil, basofil, sel mast dan eusinofil. Sema kecuali basofil bekerja sebagi fagosit selama sel mast dan basofil mensekresikan mediator inflamasi.
Sel fagosit menggunakan opsonin tergantung fagosistis-atau opsonin tidak tergantung fagositis.

Respon adaptif
-   Spesifik dan memori
Limposit B dan T terdiri dari sel-sel respon adpatif. Sel ini mempunyai permukaan rseptor spesifik untuk mengahdang organisme.
Respon imun aadptif dapat dibagi jadi 2 bagian utama, mediasi humoral dan selular. Limposit B dan plasma sel mengaktifasi limfosit B yang mengekskresikan antibodi, terdiri dari bagian humoral respon imun adaptif.

MHC
Sebuah tanda gen yang ditemukan pada kromosom 6 manusia disebut juga kompleks human leukosyte antigen (HLA).
Kompleks MHC dibedakan atas 3 klass : MHC kelas I, II dan III
Molekul yang termasuk MHC kelas I : antigen HLA A, HLA Bdan  HLA C. Molekul ini ditemukan pada semua sel nukleat tubuh.antigen kelas I tidak ditemukan pada sel darah merah matang.
Molekul yang termasuk MHC kelas II : HLA DP, HLA DQ, dan HLA DR
Antigen MHC kelas III ditujukan untuk faktor soluble, komplemen, dan faktor nekrosis tumor.
            Kemampuan MHC kelas I untuk menghasilkan peptida endogen mengizinkan limfosit T CD8+ sitotoksik secara konstan menampakkan sel infeksi.

            Sitokin
            Sitokin, faktor soluble yang disekskresikan oleh sel, efek aktifitas sel lain atau sekret sel tersebut.Sitokin menyusun komplek homeostatis sel dan jaringan dengan bekerja dalam autocrine dan paracrine.contohnya mengaktifasi limfosit T CD4+ mengsekresikan IL2 dan interferon γ ( gamma), yang sinergis  dalam mengaktifasi sel NK.

Evaluasi Komponen Sistem Immun
·         Imunodefense ( pertahanan ) mekanik dan non spesifik
Ahli klinik harus menguji pasien dengan hati-hati dan identifikasi tipe spesifik faktor resiko yang tampak seperti pada tube.
·         Aspek Fungsi Sistem Imun
Parameter dari sel pada penentuan klinik adalah tipe sel, jumlah sel dan fungsi.
Quantifikasi / Hitungan
Ø  Untuk melihat jumlah sel secara cepat, digunakan perhitungan sel darah putih (WBC) dengan diferensial
Ø  Diferensial dolaporkan sebagi persen (%) fase jumlah WBC.
Ø  Faktor ketiga untuk menentukan adalah mayoritas limfosit yang ada pada organ limfoid kedua. Perubahan pada limfosit darah perifer tidak selalu memperlihatkan perubahan dalam organ limfosit.
Jumlah granulosit dan monosit diperkirakan dengan menghitunh jumlah WBC dengan diferensial. Semakin besar jumlah netrofil, semakin besar resiko infeksi. Obat-obat dan penyakit dapat merendahkan jumlah netrofil. Pasien dengan jumlah netrofil 1500 sel/mm3 menyebabkan nutropenia.
Jumlah total limfosit digunakan sebagi ukuran status nutrisi, karena perubahan ini dekat dengan kehilangan nutrisi dan kepenuhan.
Populasi limfosit dengan fungsi berbeda atau tahapan aktivasi berbeda dapat dihitung berdasarkan marker sel permukaan. Marker sel permukaan dapat disebut juga cluster of differntiation (CDs) . CD biasanya adal protein atau glikoprotein pada permukaan sel.
Perhitungan sel CD3+ dan CD4+  digunakan untuk memantau imunosupresi muromonab dan managemen klinik paad pasien HIV.



Flow cytometri
Dapat digunakan untuk leukocyte phenotyping, tumor cell phenotyping dan beberapa type analisis DNA.
Untuk flow cytometri, suspensi sel diletakkan dibawah tekanan yang kemudian sel mengalir melewati laser pada aliran single sel.

Evaluasi Functional System Imun
In Vivo
Tes yang paling umum untuk menentukan fungsi limfosit adalah test penundaan hipersensitivitas kulit. Yaitu mengevaluasi penundaan tipe hipersensitivitas atau limfosit T memory.
Metoda yang paling umum adalah dengan pemberian intradermal sebuah panel antigen recall. Penentuan dalam  diameter dari indurasi pada tempat injeksi harus diambil 48-72 jam setelah pemberian antigen.
Reaksi positif bila diamter indurasi 2mm atau lebih. Derajat sensitivitas berhubungan dengan area indurasi. Mayoritas individu yang immunokompeten akan menunjukan hasil positif.
Indikasi yang diterima pada tes ini meliputi ; evaluasi gangguan immunitas atau penyakit kronik yang menyababkan disfungsi imun selular, serangan patogen infeksi, evaluasi status nutrisi dan pada beberapa kasus, penentuan immune senescence.
Penentuan fungsi limposit B in vivo terdiri dari imunisasi pasien dengan antigen protein dan poli sakarida untuk mendatangkan dan menghitunh respon antibodi setelah imunisasi.

In Vitro
Penentuan proliferasi Limfosit
Digunakan sampel darah perifer dan biakan.
Sel akan memperlihatkan mitogen non spesifik secara normal, dengan adanya mitogen, limfosit akan berproliferasi. Level radio aktivitas sel dapat dihitung pada β-scintillation counter dan setara dengan derajat proliferasi.
Hasil tes dibandingkan dengan sampel orang normal. Pasien dengan defisiensi imun mempunyai limfosit aktif lebih sedikit dari pada orang normal.
Modifikasi tes ini digunakan untuk transplantasi allogeneic hematopoetic stem cell untuk mengevaluasi seberapa dekat kecocokan donor dan host, untuk memprediksi resiko pada pasien.

Aspek Humoral dari Fungsi Humoral
Penentuan komponen humoral bisa kuantitatif untuk menentukan konsentrasi absolut faktor tersebut atau kualitatif untuk menentukan fungsi komponen.

Imunoglobulin
Ø  Menentukan Total IgM
Dihitung dengan mengurangi konsentrasi albumin dari total protein dalam serum. Hasil ini memberikan perkiraan kasar jumlah konsentrasi IgM.
Penentuan akurat total konsentrasi IgM adalah dengan elektrophoresis protein serum (SPEP).
                       
                        Sub klas IgG
                                                Ada 4 subklas IgG ; IgG1, IgG2, IgG3, IgG4. Dengan kadar 65%, 20%, 10%, 5%.
                                                Konsentrasi subklas sering ditentukan pada pasien dengan immunodefisiensi.
                                                Defisiensi IgG2 dan IgG4 berhubungan dengan infeksi kronik. Infeksi juga berhubungan dengan gangguan autoimun.


                                    Sistem Komplemen
                                                Test untuk penentuan sistem komplemen adalah test komplemen hemolitik total. Sumber komplemen adalah serum pasien.
Penentuan hasila akurat adalah dengan jumlah titrasi sera dan menghitung hemolisis. Hemolisis ditentukan dengan spektrofotometer untuk mengukur jumlah hemoglobin yang dikeluarkan.
Kemudian tes serum pasien dan jumlah serum yang diperlukan menghancurkan 50% sel darah merah dilaporkan sebagai CH50.

Metoda Penentuan Sitokin (ELISA dan RIA)
Ø  ELISA
Dapat menentukan hanya jumlah sitokin dalam biakan
ELISPOT merupakan penentuan rantai enzim untuk mendeteksi dan menghitung sitokin memproduksi leukosit.

Pada ELISA konvensional, ELISPOT dapat digunakan peneliti untuk mendeteksi frekuensi dan jumlah absolut sitokin mensekresikan leukosit.


                                   




No comments:

Post a Comment