Sunday, August 30, 2015

System Hematopoietik



HEMATOPOEISIS
Hematopoeisis didefinisikan sebagai proses  pembentukan dan pematangan sel-sel darah  dan derivatnya karena tingkat penggantian sel yang hebat dalam system tersebut dengan lebih dari 6 juta sel diproduksi perkg berat badan setiap 24 jam.
Sinonim: Haematopoiesis, hemopoiesis, haemopoiesis, hemogenesis, haemogenesis, hematogenesis, haematogenesis, sanguifikasi.
Jumlah sel darah diperoleh dengan memproduksi sel-sel darah yang baru dan mendestruksi sel-sel lama atau tua.
Pembagian sel-sel darah :
a. Red Blood Cells (RBCs) atau eritrosit
b. White Blood Cells (WBCs) atau leukosit
c. Platelet atau trombosit
Sel hematopoietik adalah salah satu sel utama yang dievaluasi untuk fungsi biologis dan pola pematangan dan identifikasi molekul protein (sitokin) yang mengatur system ini telah memberi informasi baru yang sangat banyak berkaitan dengan kontrolnya. Proses pembentukan sel hematopoietic berlangsung terus menerus secara rumit, melibatkan interaksi antara sel yang belum matang, lingkungan mikro sekitar dan sitokin.
System Hematopoietik
Terdiri dari 3 komponen sel utama Leukosit, Platelet dan Eritrosit. Kelompok pertama meliputi grup sel fungsional termasuk netrofil, eosinofil, basofil, monosit/makrofag, limfosit dan plasma sel.
Leukosit
a.      Netrofil
Fungsi utama netrofil (yang dikenal dengan leukosit polimorfonuklear) adalah untuk mencegah serangan mikroorganisme pathogen dan untuk lokalisasi dan membunuh mikroorganisme ini jika mereka menyerang tubuh. Efek ini akan memediasi serangkaian peristiwa termasuk migrasi ke tempatnya (kemotaksis), pengenalan se lasing, fagositosis, fusi lisosom, degranulasi dan oksidasi generasi lokal (Respiratory burst) dan degradasi enzim. Netrofil terlibat dalam proses infeksi oleh bantuan faktor kemotaksis. Ketika proses migrasi ke situsnya terjadi, netrofil akan menyerang mikroorganisme lawan.
Opsonisasi adalah suatu proses dimana antibodi dan komponen coat mikroorganisme dan meningkatkan pengenalan netrofil. Fagositosis, granulositoplasma dengan fusi netrofil dengan fagosom atau fagositosis mikroorganisme, degranulasi, dan menyediakan enzim-enzim. Degradasi enzim ini membunuh mokroorganisme melalui reduksi oksigen. Sekresi enzim ini dapat juga menyebabkan luka jaringan inang setempat. Kerja sitokin seperti factor stimulasi koloni granulosit (G-CSF) dan factor stimulasi koloni makrofag-makrofag (GM-CSF) dapat mengintensifkan aktifitas netrofil.

b.      Eosinofil
Walaupun eosinofil sedikit efisien dibandingkan netrofil, namun ia elicit fungsi efektor yang hamper sama. Aktifitas eosinofil diatur terutama melawan invasi se lasing besar seperti Helminth dan parasit lain yang tidak dapat difagosit. Selama reaksi alergi, aktivasi sel mast mensekresikan zat kimia yang menarik dan menstimulan eosinofil yang kemudian menciptakan zat-zat yang menetralisir atau mendegradasi produk reaksi sel mast. Sayangnya, konstituen eosinofil dapat merusak jaringan normal dan menyebabkan pelepasan histamine kedua. Konsentrasi eosinofil yang tinggi untuk waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan system syaraf pusat dengan kemungkinan pilmonari dan dermatologis.

c.       Basofil dan Sel mast
Melalui pelepasan massive dari komponen granulnya ketika proses stimulasi berlangsung. Fungsi basofil dan sel mast adalah sebagai mediator proses inflamasi. Bahan kimia yang dilepaskan termasuk heparin, histamine dan bahan-bahan lain. Mediatornya dapat vasoaktif, bronkokonstriktif dan atau kemotaksis untuk eosinofil.

d.      Monosit / Makrofag
Berasal dari unit pembentukan koloni monosit-granulosit. Monosit adalah sel peripheral dalam perpindahan dari sumsum tulang ke jaringan. Saat berada dalam jaringan, dibawah pengaruh faktor lokal, monosit menjadi makrofag. Makrofag dihasilkan dalam hati (sel Kupffer), spleen, nodus limfa, sel mikroglial (CNS), kulit (sel Langerhans) dan tulang.

Monosit dan makrofag mempunyai fungsi beragam termasuk permulaan dari respon imun dalam pengenalan oleh limfosit, pengaturan intensitas respon imun, fagositosis se lasing, tumor sitotoksisitas, degradasi debris selular, dan sekresi molekul peptida yang dinamakan monokin (subklas dari sitokin). Contoh monokin antara lain interferon, tumor necrosis factor dan interleukin-1 (IL-1). Monokin dan sitokin lainnya mengatur aktifitas sel-sel ini.

e.       Limfosit
Fungsi utama limfosit adalah mengontrol dan menjadi sel efektor dalam system imun. Banyak dari sel-sel ini juga merupakan faktor sintetis penting untuk beragam jenis sitokin. Limfosit dapat dibagi secara fungsional menjadi sel yang menghasilkan sel mediasi imunitas (sel-T) dan juga bertanggung jawab dalam proses imunitas humoral (sel-B).

Beberapa perbedaan subtype sel-T dapat ditemukan dalam pembuluh darah perifer antara lain sel T-supresor sitotoksik (CD4). Sel ini bertanggung jawab dalam mencegah reaksi hipersensitifitas, menstimulasi diferensiasi (pematangan) sel-B dan pembentukan antibody yang selanjutnya mengatur reaksi inflamasi. Limfosit B akan menjadi sel plasma yang memproduksi immunoglobulin spesifik untuk antigen pada permukaan sel.

Sel null adalah bagian limfosit yang tidak mengandung sel B atau sel T asli. Sel ini mengacu pada limfosit granular besar yang diperkirakan berfungsi dalam sitotoksik langsung untuk kesatuan asing dan bekerja sendiri (natural killer cells) atau dalam prosesnya dengan immunoglobulin (antibodi-sel sitotoksik terikat).

Platelet

Terdapat beberapa mekanisme yang diperoleh platelet (trombosit) berinteraksi untuk memfasilitasi koagulasi darah termasuk likalisasi thrombus dan pencegahan sel reseptor spesifik untuk faktor penggumpalan sebagaimana permukaan fosfolipid diperlukan untuk konversi protrombin menjadi thrombin dan proteksi thrombin dari antitrombin. Proses dimulai dengan kerusakan vaskular pembuluh darah balik. Kejadian ini akan menghasilkan protein plasma lain (contohnya faktor von Willebrand).
Platelet kemudian akan mengagregat melalui proses keterikatan kalsium. Agregasi ini akan melepaskan berbagai mediator platelet seperti tromboksan, serotonin dan faktor platelet V, menyebabkan pembentukan agregasi platelet irreversible.
Erirosit
Fungsi utamanya adalah membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan periferal dengan bantuan hemoglobin. Tingkat metabolism umum pasien dan faktor lokal dapat mengontol pelepasan oksigen. Beberapa obat dapat selektif terakumulasi dalam eritrosit menyebabkan perbedaan zat ketika membandingkan konsentasi obat dalam plasma darah. Enzim yang ditemukan dalam eritrosit (contohnya aldehid dehidrogenase) dapat berpengaruh kuat dalam metabolism sistemik obat-obatan.

No comments:

Post a Comment